
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id., SURABAYA—Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berkolaborasi dengan Faculty of Engineering, University of New South Wales (UNSW) Sydney menggelar seminar internasional bertajuk “How to be a Good Engineering Educator” pada Rabu, 26 November 2025.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini menghadirkan dua narasumber dari FT Unesa, yaitu Lilik Anifah, Guru Besar Teknik Elektro Unesa dan Husni Mubarok, dosen Teknologi Pendidikan Unesa.
Kegiatan ini merupakan rangkaian masterclass inspiratif bagi para tenaga pendidik dan mahasiswa teknik kedua universitas. Judul seminar pada sesi kali ini adalah “Empowering Engineering Educators: A Masterclass Leveraging Institutional Expertise and Real-World Experience”.
Pada sesi materi, Lilik Anifah menerangkan sejumlah faktor penentu keberhasilan pendidikan, di antaranya mahasiswa, dosen, kurikulum, fasilitas dan infrastruktur serta lingkungan pendukung. Ia juga menjelaskan terkait kurikulum dan best practice dalam implementasi kurikulum di Unesa.
Kurikulum Unesa dirancang untuk membuka ruang kolaborasi bagi mahasiswa dari berbagai program studi agar dapat bekerja sama dalam satu tim. Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip Tridharma Perguruan Tinggi, yakni pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, yang terintegrasi dalam proses pembelajaran.
“Problem-Based Learning memberikan pembelajaran berbasis masalah kontekstual agar mahasiswa mampu menghasilkan solusi yang berdampak,” terangnya.

www.unesa.ac.id
Lebih jauh Lilik memaparkan bahwa implementasi kurikulum di FT Unesa dimulai dari proses penyusunan yang mencakup perumusan tujuan pendidikan program, kemudian dijabarkan menjadi capaian pembelajaran program dan capaian pembelajaran mata kuliah.
Pendekatan ini memastikan bahwa kurikulum yang diterapkan selaras dengan kebutuhan dunia industri, profesi, serta perkembangan ilmu pengetahuan.
Materi kemudian dilanjutkan Husni Mubarok yang memaparkan topik Empowering Engineering Educator. Ia menyoroti sejumlah teori pembelajaran yang relevan bagi para pendidik, mulai dari behaviourism, cognitivism, constructivism, experientialism, hingga social and contextual.
Selain itu ia juga menekankan pentingnya metode pengajaran inovatif yang memmungkinkan mahasiswa belajar melalui tantangan dan permasalahan nyata. Pendekatan tersebut dinilai mendorong mahasiswa untuk melakukan analisis serta mengembangankan solusi secara lebih mendalam.
“Dosen perlu menguasai strategi yang dapat membuat mahasiswa merasa nyaman dan menikmati proses perkuliahan, sehingga dapat menghindari rasa bosan maupun kecemasan,” jelasnya. []
***
Reporter: Ahmad Daffa F. (FT)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: