
Hari Kesaktian Pancasila tahun ini mengusung tema “Pancasila Perekat Bangsa menuju Indonesia Raya.”
Unesa.ac.id. SURABAYA—Momentum Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober menjadi ruang refleksi penting bagi bangsa Indonesia untuk menegaskan kembali relevansi nilai-nilai Pancasila di tengah dinamika zaman. Menurut pakar sosiologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Agus Machfud Fauzi, Pancasila hari ini menjadi kebutuhan yang perlu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa pemaknaan Pancasila selalu mengalami pergeseran sesuai konteks zamannya. Pada 1965, Pancasila diposisikan sebagai dogma yang harus diterima tanpa ruang tafsir. Kini, lanjutnya, dogma itu telah bertransformasi menjadi kebutuhan hidup bersama yang dijalankan sesuai kepribadian bangsa.
“Menurut saya, masyarakat kita sudah pancasilais, meskipun pemahamannya berbeda sesuai masanya. Kalau dulu Pancasila dianggap dogma, hari ini ia diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Koorprodi S-1 Sosiologi Unesa itu.
Agus Machfud mencontohkan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dahulu sila ini kerap dipahami sebatas legitimasi religius. Saat ini, pemaknaannya berkembang menjadi ruang dialog antarumat beragama yang memungkinkan keberagaman tumbuh dalam lingkungan plural. Dalam konteks itu, sila pertama Pancasila menjadi jembatan penghubung atau perekat antar-umat beragama.
Lebih jauh, pria kelahiran Ponorogo itu menekankan bahwa secara sosiologis bangsa ini memerlukan kalimatun syawa atau kata penghubung yang menyatukan masyarakat heterogen. Dan Pancasila, menurutnya, adalah kebutuhan dasar itu. Karena merupakan kebutuhan, meski tidak lagi diposisikan sebagai dogma, Pancasila tetap relevan sepanjang masa.
Upacara Hari Kesaktian Pancasila memang penting sebagai refleksi, tetapi yang lebih mendesak adalah memastikan nilai-nilai Pancasila benar-benar hadir dalam kehidupan nyata.
Hal yang sama diungkapkan dosen S-1 Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rojil Nugroho Bayu Aji. Ia menekankan bahwa memahami Pancasila tidak cukup hanya dipandang sebagai sesuatu yang ‘sakti’.
“Lebih dari itu, nilai-nilainya harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dari hal-hal terkecil. Pancasila harus dimaknai secara rasional, bukan mitologis. Sakti bukan berarti mistis, melainkan terbukti mampu bertahan, beradaptasi, dan menyatukan bangsa Indonesia hingga hari ini,” jelasnya.
Sebagai ideologi bangsa, Pancasila memiliki tiga dimensi penting, yaitu realitas, idealitas, dan fleksibilitas. Realitas berarti nilai-nilai Pancasila bersumber dari kehidupan bangsa sendiri, bukan dari luar. Idealitas mencerminkan cita-cita luhur bangsa, sedangkan fleksibilitas menunjukkan kemampuan Pancasila untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman yang dinamis dan kompleks.
Pancasila tidak boleh dipahami sebagai doktrin yang kaku, melainkan panduan hidup yang bisa mengikuti perubahan tanpa kehilangan esensi. Hal inilah yang menjadikan Pancasila relevan di berbagai era, dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era digital saat ini.
Rojil menegaskan bahwa tiga nilai dasar Pancasila, yakni ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan, harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sosial. Setiap individu yang mengaku beragama, baik Islam, Kristen, Hindu, maupun Buddha, harus menjadikan religiusitasnya sejalan dengan kemanusiaan.
“Kalau kita berketuhanan, maka konsekuensinya adalah menghargai sesama manusia. Tidak boleh ada diskriminasi, apalagi agresi terhadap perbedaan keyakinan. Justru yang harus dibangun adalah sikap saling menghormati dan mengapresiasi, sehingga tercipta harmoni,” ungkapnya.
Nilai kemanusiaan ini juga erat kaitannya dengan persatuan. Di tengah keberagaman etnis, agama, dan budaya, bangsa Indonesia hanya bisa berdiri kokoh jika masyarakatnya mengedepankan sikap saling menghormati. Ketiga nilai ini bukan teori abstrak, melainkan panduan konkret yang harus dijalankan generasi muda dalam interaksi sosial sehari-hari.[]
***
Reporter: Puput Saputra (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Freepik.com.
Share It On: