
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Labschool Unesa (Universitas Negeri Surabaya) mengambil langkah progresif untuk mencetak pendidik berwawasan dunia dengan menggelar ‘Workshop Cultural Awareness in English Communication for Teachers in Labschool Unesa: English for Classroom Routines’ pada Kamis, 22 Januari 2026.
Melalui kegiatan yang berlangsung secara daring itu, guru di lingkungan Labschool dibekali pemahaman lintas budaya (cultural awareness) untuk memperkuat interaksi di dalam kelas.
Kegiatan yang menghadirkan Durdona Boychayeva dan Sadullayeva Nilufar Kadamovna dari Uzbekistan State World Language University (UzSWLU) tersebut diikuti jajaran pendidik dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK.
Ketua Yayasan Labschool Unesa, Endah Purnomowati Nurhasan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidik di lingkungan Labschool.
Menurutnya, penguasaan bahasa Inggris bagi guru saat ini tidak boleh hanya berhenti pada aspek tata bahasa, tetapi harus menyentuh pemahaman konteks budaya.
"Selama ini kita rutin mengadakan program internasional bagi siswa, maka guru pun tidak boleh kalah. Guru harus memiliki wawasan yang lebih luas agar mampu membimbing siswa secara optimal serta memiliki karakter global sejak dini," ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Pengelola Labschool Unesa, Sujarwanto, menegaskan bahwa workshop ini merupakan pembuka dari rangkaian program penguatan bahasa Inggris bagi guru Labschool. Program ini dirancang untuk membentuk pola pikir yang terbuka (open-minded) terhadap perkembangan dunia.
"Kami merencanakan program serupa berlangsung rutin setiap bulan dengan menghadirkan narasumber mancanegara. Tujuannya agar guru-guru Labschool semakin terbiasa dengan perspektif global dan mampu mentransfer wawasan tersebut kepada peserta didik di dalam kelas," jelasnya.
Dalam sesi pemaparan, Sadullayeva Nilufar Kadamovna menekankan pentingnya kesadaran budaya untuk menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Pemahaman terhadap perbedaan gestur, ekspresi wajah, dan gaya komunikasi sangat membantu guru menciptakan interaksi pembelajaran yang lebih efektif dan saling menghargai.
Sementara itu, Durdona Boychayeva mengajak para guru untuk mengintegrasikan kesadaran budaya ke dalam rutinitas kelas (classroom routines). Ia berpendapat bahwa ketika guru memiliki pemahaman budaya yang baik, pembelajaran Bahasa Inggris akan menjadi lebih inklusif, bermakna, serta mampu menumbuhkan empati pada siswa.
Melalui penguatan cultural awareness ini, Labschool Unesa berharap para pendidik tidak hanya menjadi pengajar materi, tetapi juga menjadi jembatan bagi siswa untuk memahami keragaman dunia dan memperkuat karakter global mereka. ][
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: